::..Instalasi Mikrotik (router/bandwidth/wireless). Instalasi jaringan internet, LAN, mikrotik, router, hotspot dan voucher hotspot serta maintenance warnet. email:sila.sazali@gmail.com.::
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Schism, Tandingan “Fitna” Muncul di Youtube

Seorang blogger asal Arab Saudi membuat film yang mirip film “Fitna.” Film itu diberi judul “Perpecahan/Schism” dan Youtube sempat menghapus video tersebut dari situsnya. Film “Perpecahan” berdurasi enam menit, dibuat oleh Raid Al-Saeed. “Saya membuat film itu kurang dari 24 jam, ” kata Saeed pada Arab News. Film ini bisa ditonton di sini.

Dalam film itu Al-Seed mengambil beberapa teks dalam alkitab yang sengaja ditampilkan dalam konteks yang melenceng-mirip yang dilakukan Wilders dalam film “Fitna”- dan mengaitkannya dengan sosok pemimpin kepemudaan Kristen fundamentalis asal Texas.

Al-Saeed mengatakan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk menyebarkan kebencian terhadap umat Kristen, tapi cuma ingin membuktikan bahwa menilai Islam hanya dari menonton film “Fitna” adalah tindakan yang salah.

“Sangat gampang untuk menyelewengkan bagian-bagian dari kitab suci dari konteksnya dan membuatnya menjadi seperti kitab yang tidak manusiawi. Inilah yang dilakukan Wilders untuk menggalang dukungan atas ideologinya yang penuh kebencian, ” tulis Al-Saeed di akhir videonya.

Saeed juga memposting videonya itu di Youtube dan Youtube sempat menghapus video Saeed dengan alasan video itu melanggar persyaratan yang ditetapkan Youtube. Tapi alasan itu dibalas oleh Saeed dengan mempertanyakan mengapa Youtube menghapus videonya sementara “Fitna” masih dibolehkan tampil di Youtube. Saeed lalu memposting kembali videonya pada 2 Maret kemarin.

Diadaptasi dari blog akhdian.wordpress.com
Sumber asli=eramuslim.com: http://eramuslim.com/berita/int/8411173541-blogger-saudi-buat-film-tandingan-quotfitnaq


Read More......

Fitna dan Kontroversial "nya"

Waduh, ini film baru memang membuat marah di mana-mana. Kalau anda belum menonton film yang berdurasi beberapa menit itu, silahkan aja serach di Youtube.com. Tapi, anda harus loggin terlebih dahulu, dan yang jelas film ini tak bisa didownload (mungkin karena kontroversial yang terjadi). Aku sendiri, ngeri ketika melihat film yang diawali dengan suara ayat Al-Quran ini.


Di dalam film ini ditampilkan sebuah surat Alquran yang menurutku diartikan sepotong-sepotong, sehingga memberi kesan bahwa agama Islam begitu ekstrim. Di film yang dibuat oleh seorang anggota parlemen Belanda ini sebenarnya hanya cuplikan-cuplikan video nyata, seperti tragedi WTC, pemboman di sebuah kereta api, kejadian-kejadian ekstrim lainnya.

Namun yang membuat ummat muslim berang, di film itu sengaja disetting bahwa ayat-ayat yang ada di Alquran seolah menjadi dasar atas terjadinya tragedi itu. Selain itu, di film ini juga dikait-kaitkan dengan ceramah para tokoh muslim di sebuah majelis, yang isinya membakar semangat kaum muslim yang hadir saat itu untuk berbuat anarkis, tujuan: Kill Them, destroy!

Entahlah kenapa si Geert Wilders ini sengaja membakar amarah umat muslim atau dia begitu benci terhadap muslim. Yang jelas dia (Geert Wilders)bahkan pernah menyatakan: "Jika Muhammad (Nabi) tinggal di sini (Belanda) sekarang, aku akan menyuruhnya keluar dari Belanda dengan tangan terbelenggu."

Masyallah, ini sebuah pernyataan yang sangat sombong dan berani dari seorang kafir Geert Wilders. Semoga Allah melaknatnya. Gimana donk komen kamu?


Read More......

Ketika Cinta Bertasbih Difilmkan

Dipoting dimilis FLP Andalas, Jakarta, 26 Maret 2008
Mengikuti kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy, novel keduanya, Ketika Cinta Bertasbih, bakal diangkat ke layar lebar. Film ini akan diarahkan sutradara kawakan Chaerul Umam, dan penggarapannya dikerjakan rumah produksi SinemArt.



Kang Abik --sapaan akrab Habiburrahman- - menetapkan syarat yang cukup ketat bagi pemeran utamanya, yakni harus bisa membaca Al-Quran.

"Saya menginginkan agar para pemain benar-benar bisa menghayati tokoh-tokoh yang saya gambarkan dalam novel saya," ujar novelis nomor satu di Indonesia versi organisasi para penikmat sastra dari Universitas Diponegoro, Semarang, ini kepada wartawan, Selasa (25/3), di Jakarta.

"Dan terus terang, saya menginginkan pemain yang memainkan film-film saya ini secara moral dia bersih," kata Kang Abik, seraya menambahkan, jika perlu, gelar audisi untuk mencari pemain-pemain yang tepat untuk tokoh-tokoh di novelnya itu.

"Kalau misalnya ada tokoh-tokoh yang bisa membaca Al Quran dengan bagus, jadi wajar, jika audisinya ada bagian membaca Al Quran."

Selain soal pencarian calon-calon pemain, SinemArt, melalui siaran persnya menyebutkan telah memasang target untuk dapat mengambil gambar untuk keperluan sejumlah adegan di film ini, di Kairo, Mesir. Syuting di negeri Piramida ini dirasa perlu dilakukan, kembali dengan alasan yang sama, penyesuaian dengan alur cerita yang telah tertuang dalam novel Kang Abik.

"Syarat-syarat film ini sama dengan syarat sebelumnya (Ayat-Ayat Cinta). Saya selalu menginginkan agar filmnya itu sebisa mungkin dekat dengan karya aslinya. Artinya, di dalam Ketika Cinta Bertasbih, ada setting-nya di Kairo, makanya saya minta sebisa mungkin diadakan untuk setting di Kairo atau lokasi yang dekat dengan Kairo," papar Kang Abik.

Sebelumnya, pada Ayat-Ayat Cinta, Kang Abik pernah bertutur, mengangkat novel ke layar lebar ini bukanlah perkara mudah. Pihak produser film kerap menemui kendala. Syarat syuting harus di Kairo, Mesir, ternyata gagal terlaksana. Lokasi syuting akhirnya dipindahkan ke India, Semarang, dan Jakarta. Penggarapan film klasik Cleopatra produksi Hollywood saja, kata Kang Abik, mentok tak bisa digelar di Mesir, hingga akhirnya dilakukan di Maroko.

Kejelian memilih pemain-pemain atau penentuan lokasi syuting, menurut Kang Abik, merupakan dua contoh standar yang harus ditanamkan dalam mengangkat dua karyanya itu ke layar lebar. Alasannya mudah ditebak, para pembaca telah memiliki imajinasi tersendiri atas novelnya itu. "Syukur kalau kita bisa melebihi imajinasi pembaca," harapnya.

Ketika Ayat-Ayat Cinta telah dikabarkan telah mampu meraup tiga juta penonton, lantas apa ekspetasi penulis muda ini untuk Ketika Cinta Bertasbih? "Hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, dan besok kalau bisa lebih baik dari pada hari ini. Ketika saya menulis karya-karya saya, saya selalu berikhtiar dan berusaha agar karya yang saya tulis hari ini lebih baik dari pada kemarin. Ekspetasi saya, saya harus optimis, nanti, film Ketika Cinta Bertasbih juga lebih baik."

Sebagai langkah awal penggarapan, SinemArt telah memilih Chaerul Umam sebagai sutradara film ini.

Chaerul sebelumnya telah dikenal dengan karya-karya besarnya seperti Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah, dan Fatahillah. Pada tahun 1992, Chaerul digelari "Sutradara Terbaik" pada perhelatan Festival Film Indonesia melalui film arahannya, Ramadhan dan Ramona.

Sementara untuk penulisan skenario, sepenuhnya diserahkan kepada Imam Tantowi, penulis yang sering berduet dengan Chaerul.

Menurut rencana, Ketika Cinta Bertasbih akan memulai syuting pada Agustus 2006, dengan target rilis di bioskop-bioskop di Indonesia jelang tutup tahun 2008.

Read More......

Ayu Utami: Ayat Ayat Cinta Pengecut


Iin Yumiyanti - detikcom
Jakarta - Film Ayat Ayat Cinta (AAC) kini telah tembus 3 juta penonton. Sebelum sukses filmnya, novel dengan judul ang sama juga laris manis. Setelah film rilis, novel AAC juga kembali diserbu pembeli.

Sayang meski laris manis, novel ini kurang mendapat apresiasi dari sastrawan atau kritikus sastra lainnya. Hanya sastrawan yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), tempat bernaung penulis AAC Habiburrahman El Shirazy, yang memuji-muji novel ini.

Sementara di luar FLP, jarang kritikus sastra ataupun sastrawan yang tertarik atau telah membaca novel ini. Mayoritas sastrawan dan kritikus sastra yang dihubungi detikcom mengaku belum membaca, bahkan menyatakan tidak berminat membaca AAC.

Dari sedikit sastrawan yang telah membaca karya Kang Abik, panggilan Habiburrahman adalah Ayu Utami. Apa pendapat si penulis novel fenomenal 'Saman' ini? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Ayu Utami:


Apakah anda sudah membaca novel atau menonton film Ayat-Ayat Cinta?

Saya sudah membaca novelnya. Tapi belum menonton filmnya.

Beberapa sastrawan dan pengamat sastra menyatakan tidak berminat membaca Ayat-Ayat Cinta. Mengapa anda membaca novel Ayat-Ayat Cinta?

Kalau saya kan memang harus mengikuti perkembangan perbukuan. Saya bagaimana pun bergerak di bidang penulisan, saya anggota Komunitas Sastra Jakarta, saya harus sering baca sastra, saya sering menjadi juri omba cerpen. Jadi membaca novel baru yang menjadi perbincangan wajib bagi saya. Senang atau tidak senang, saya harus membacanya.

Setelah membaca, apa kritik anda?

Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.

Orang sekarang ingin mendengar petuah bijak, seperti ada sesuatu yang optimis, ada kebaikan di dunia ini.

Ayat Ayat Cinta ini, dari segi struktur cerita seperti cerita Hollywood tahun 1950-an. Bedanya, kalau Hollywood Kristen, ini islam. Endingnya mirip, yakni agama menang. Kalau di Hollywood, misalnya Winnetou masuk Kristen, kalau di Ayat-Ayat Cinta, yang perempuan (Maria, seorang Kristen Koptik) masuk Islam.

Samalah plotnya dengan cerita Hollywood tahun 1950. Laki-lakinya (Fahri, tokoh utama novel Ayat-Ayat Cinta) sangat jagoan, ia miskin, tapi bisa sampai Mesir dan tiba-tiba di Mesir, empat perempuan jatuh cinta semua. Hero banget, hebat dia bisa menaklukkan banyak perempuan.

Karakterisasi tokoh Fahri dalam novel itu, apakah cukup kuat untuk membuat para perempuan jatuh cinta padanya?

Kalau saya nggak tahu. Kenapa laki-laki ini bisa bikin perempuan jatuh cinta. Kalau yang Aisha (perempuan Turki yang kemudian menikah dengan Fahri) mungkinlah, karena ada konflik saat bertemu di metro, tapi bagaimana dengan tetangganya (Maria) bisa jatuh cinta habis-habisan, ini yang tidak tergarap.

Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kawin lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati. Hollywood tahun 1950-an juga seperti itu. Kristen itu kan mengagungkan tidak menikah, jadi begitu tokoh utamanya punya pacar dimatikan. Nah di Hollywood itu tahun 1950-an, Indonesia baru tahun 2008.

Mengapa kemudian Ayat-Ayat Cinta ini sangat laris? Karena masyarakat kita masih di situ tahapnya, inginnya kisah-kisah yang hitam putih dan penuh optimisme seperti itu. Mungkin karena kita habis reformasi, lalu ada chaos, jadi kita ingin kisah yang menghibur seperti itu.

Di novel ini ada cerita tentang pindah agama, dan ini yang menjadi salah satu kontroversi. Menurut anda, apakah cukup kuat pelukisan sehingga ada alasan pindah agamanya Maria masuk akal?

Saya nggak tahu. Buat saya nggak penting kuat atau nggak. Orang pindah agama, dalam hidup sehari-hari, banyak sekali alasannya, ada yang terancam maut, lalu pindah agama . Ada yang karena kawin lalu pindah agama. Ada yang secara revolusioner, ada yang pelan-pelan atau evolusioner.

Ada yang keberatan dengan kisah pindah agama ini diangkat ke novel yang dikonsumsi publik, karena itu menunjukkan dakwah agar masuk Islam sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu toleransi antar umat beragama di Indonesia. Pendapat anda?

Ini kan novel dakwah, jadi nggak apa-apa. Saya Katolik, menurut saya nggak apa-apa orang berdakwah. Memang kenapa kalau berdakwah? Kecuali penulisnya bilang, ini bukan novel dakwah. Dia mengaku ini novel dakwah, jadi sah saja.

Saya juga berdakwah, saya mendakwahkan ide-ide saya. Nggak papa ngajak masuk Islam. Kita mau ngajak masuk agama lain, nggak masalah. Namanya, rebutan pengikut agama itu biasa saja. Itu sebuah proses yang baik.

Persaingan agama itu merupakan hal yang baik, dengan adanya persaingan itu akan menghindarkan kekejaman atau represi dalam agama. Orang yang mengalami represi sebuah agama bisa pindah ke agama lain.

Kelompok yang berkeberatan dengan kisah masuk Islam ini menuding ada hegemoni soal kebenaran agama. Mereka mengandaikan bila yang sebaliknya yang dijadikan film?

Persoalan kita, negara ini kan mayoritas muslim, sebagian besar kurang berpendidikan. Saya kira melihatnya, soal kelompok garis keras menyerang kelompok non muslim itu harus dilihat dengan kaca mata yang lebih luas. Ini bukan persoalan agama, tapi persoalan sosial politik.

Saya kira hal yang sama juga terjadi, jika mayoritas negara ini Kristen misalnya dan ada orang Islam menghujat Kristen. Jadi nggak bisa dilihat dari kaca mata agama. Harus dari sosial politik, bahwa mayoritas cenderung akan cenderung akan berperilaku nggak bener. Kita harus pandai memisahkan hal-hal yang beruhubungan antara gama dengan sosial .

Ngomong soal film ya film. Nggak usah pakai film untuk menilai persoalan lain di masyarakat. Jangan campur adukkan kacamata. Pakai kacamata yang pada tempatnya.

Soal poligami, bagaimana pandangan anda?

Di luar novel itu, bagi saya, poligami tidak layak diteruskan. Itu sistem di masa lalu, tidak cocok untuk masa depan.

Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.

Ya kita bisa lihat kasus Aa Gym, dia kehilangan pendukung begitu dia melakukan poligami. Jadi jelas sekali poligami tidak disukai perempuan. Novel ini kompromistis sekali. Ia tidak berani ekstrim, dia mengangkat wacana atau ideologi poligami, tapi lalu akhirnya buru-buru dimatikan. Dia hanya kembali ke titik yang happy ending, inilah resep cerita pop.

Apa kekuatan Ayat-Ayat Cinta sendiri sehingga bisa laris?

Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya
kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.

Soal beberapa kalangan yang berpendapat Ayat-Ayat Cinta ini bukanlah sastra?

Tahun 1920 an sampai belakangan ini, saya kira batas sastra pop dan serius tidak ada lagi. Batasnya tidak terlalu ketat. Sebuah karya novel, apapun itu adalah kerajinan kata-kata. Tidak perlu dia ditempatkan sebagai sastra atau tidak.

Apa kelemahan Ayat-Ayat Cinta?

Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.

Tapi bagi saya, kalau sastrawan bernafsu untuk menyampaikan kebenaran itu tidak menarik. Sastra bukan untuk alat berdakwa, tapi untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan. Bukan berakhir dengan kata amin seperti bila kita berada di masjid atau di gereja.
( iy / asy )

Tulisan ini saya dapat dari postingan kawan FLP di Milis FLP Andalas

Read More......

Ada Apa dengan Ayat-ayat Cinta

Booming film Ayat-ayat Cinta begitu dahsyat di seantero bioskop Indonesia. Pekanbaru termasuk salah satu kota yang tiketnya paling cepat habis sejak mulai dilaunch tanggal 26 Februari lalu. Aku sendiri begitu penasaran, pingin menonton meski tiketnya rebutan sama yang lain. Kesibukan kerja dan aktifitas lainnya membuat aku urung. Tapi keinginan itu tetap muncul meski pemutaran film yang disutradari oleh Hanung Bramantyo tersebut telah lama diputar.



Saat masih di kantor, aku dapat telpon dari temen, ada film ayat-ayat cinta di rumah. Rasa penasaran itu harus aku akhiri malam itu juga. Kenapa penasaran? Aku mungkin balik bertanya, kenapa orang begitu ramai menonton film yang di bintangi Fedi Nuril ini di bioskop-bioskop Pekanbaru hingga rela memboking tiket terlebih dahulu?

Aku sebenarnya sudah khatam membaca Novel karangan Kang Abik ini. Setelah menonton filmnya, ternyata sama-sama menyentuh. Tapi versi film tidak berhasil membuat aku meneteskan air mata, mungkin karena nontonnya bareng atau apa. Di novelnya yang asli, aku benar-benar merasakan di Mesir, merasa hanyut dalam roman percintaan dan konflik yang sangat menyentuh. Akupun menitikkan air mata.

Sebuah film yang fenomenal dan mampu menyedot perhatian publik. Menurutku, film ini ibarat oase di tengah padang pasir dunia perfilman nasional. Lihatlah, bioskop yang filmnya Indonesia, rata-rata tengah memutar film-film yang arah tujuannya tak jelas, horor melulu. Dari jaman heng wilaheng, kita sudah kenal dengan film kuntilanaknya Suzana, film nyiblorong, entah apalah lagi. Film yang seperti inilah sebenarnya yang harus menjadi garapan para sutradara masa kini dan menjadi tontonan bangsa yang sedang kacau saat ini.



Read More......